Pengunaan Fulus Tembaga

Penggunaan tembaga] fulus [diadopsi] karena [keberadaan] barang-barang yang nilainya tidak signifikan, yang dijual dengan harga kurang dari satu dirham atau kurang dari 1 daniq (1/6 dirham 0.518 gram perak murni), sehingga orang-orang pada zaman dahulu dan sekarang membutuhkan [media tembaga] pertukaran] selain emas dan perak, dengan nilai yang sebanding dengan barang yang tidak signifikan tersebut. Namun menurut sejarah umat manusia, [alat tukar] ini tidak pernah disebut sebagai mata sejak dahulu kala, bahkan untuk satu jam pun dalam sehari. Ia tidak pernah diberi status sebagai uang selain emas dan perak. Umat ​​manusia mengadopsi praktik dan pandangan berbeda sehubungan dengan alat tukar barang-barang tidak penting ini.

Di Mesir, Suriah, Irak Arab dan Persia, Persia, dan Byzantium, pada masa awal dan akhir-akhir ini, raja-raja di wilayah ini, karena keangkuhan dan semangat mereka, keinginan mereka untuk memperluas kekuasaan mereka, ambisi buta mereka dan megalomania, mereka mengadopsi tembaga dan mencetaknya dalam jumlah kecil untuk membeli barang-barang yang tidak penting. Potongan tembaga ini disebut fulus oleh orang Arab. Dari fulus tersebut, hanya sejumlah kecil yang pernah beredar, dan tidak pernah diberi status sebagai salah satu dari kedua uang emas dan perak tersebut.  

Alasan di balik pembuatannya pertama kali di Mesir pada masa pemerintahan [Sultan] al-Kamil ada kejadian yang membuat dia merintahakn untuk mencetak fulus. Pada awalnya 1 dirham sama dengan 48 fulus.

Dari penjelasan fulus di atas, ada pertanyaannya bagaimana dengan praktenya untuk hari ini? Saran dari kamui, tanpa harus repot mencetaknya atau membeli koin fulus tembaga, umat Islam bisa menggunakan pecahan logam alumunium Rp 500 (berat sekitar 3.5 gram) yang sudah dicetak oleh PERURI, fulus ini dapat digunakan untuk pertukaran barang yang jumlahnya kecil atau tidak signifikan. Sedangkan saat ini kami sudah mencetak pecahan terkecil yaitu 1/6 dirham 0.518 gram perak murni, yang sudah dapat digunakan untuk transaksi kecil.

Dari cuplikan sejarah uang ini, tembaga saja sebagai logam tidak bisa disandingkan dengan emas dan perak sebagai uang, pertanyaan berikutnya bagaimana bisa secarik kertas yang bahkan nilainya jauh di bawah tembaga bisa lebih berharga dari emas dan perak, yang hari ini secarik kertas itu disebut uang, saya curiga, jangan-jangan kamu semua terkena sihir dajjal?

Comments

Leave a Reply