Adab dalam keilmuan Islam adalah tata krama spiritual, perilaku mulia yang tulus, dan sangat halus (latif), nafsu yang telah tunduk (mutmainah), lahir dari jiwa yang telah mendapat ketenangan, telah sanggup untuk menerima cahaya kebenaran sang Ilahi. Juga jiwa yang telah mampu menolak menikmati kemewahan dunia, gerak dan perbuatannya tidak bisa dipengaruhi oleh hal tersebut. Nafsu ini membuat pemiliknya merasa berpuas diri dalam pengabdiannya kepada Tuhan. Adab menyiratkan keikhlasan (muhsinin) dan kerendahan-hati.
Menjalankan adab di dunia ini hampir tak mungkin. ‘Perilaku baik’ berlaku di dunia. Adab dilakukan di lingkungan Sufi. Sekali berada di dalam lingkungan Sufi yang terpelihara maka seseorang telah masuk suatu arena kepercayaan. Maka kini engkau dituntut beradab. Engkau harus menyudutkan keakuanmu – saat berada di dalam ribat, ketika berkumpul, di antara Lelaki Allah (rijalullah), di hadapan Shaykh. Inilah arena adab.
Jalan sufi adalah jalan adab. Ada adab kepada orang asing dan tamu. Adab kepada fuqara’. Ada adab kepada mereka yang mulia dan khusus. Ada adab kepada Shaykh. Sempurnanya adab adalah dengan adab kepada dirimu sendiri. Yang pertama dicapai melalui kedermawanan dan hadiah saat kedatangan dan kepergian. Yang selanjutnya dicapai melalui pengutamaan. Engkau harus mengutamakan apa yang kau miliki atau peroleh bagi saudaramu dibanding dirimu sendiri. Yang selanjutnya dicapai melalui pelayanan, dan menanti, dan bersabar, dan mendengarkan.
Suatu waktu saya pernah mendengar seseorang mengatakan dirinya adalah orang yang tahu etika, yang terjadi adalah ‘perilaku baik’ yang lahir dari seseorang yang menyadari kesantunan-kesantunannya dirinya sendiri, maka ia digerakan oleh nafsu keakuannya (egosentris, amarah, lawamah) maka ekspresinya tidak lagi tulus, ada pamrih dan perhitungan di sana, ada kesombongan halus yang terselip.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.