Dengan dimulainya masa penggunaan uang emas dan perak ini maka perlu seperangkat pengetahuan dan paradigma lain untuk membuat hal ini dapat berjalan kembali. Apa yang saya bahas ini adalah sebuah pemikiran untuk membongkar paradigma uang fiat, keluar dari domain uang fiat, yang dimulai dengan sebuah pertanyaan:
“Bagaimana saya mengetahui nilai sesungguhnya suatu barang, komoditas dan jasa atau dari sesuatu? Bagaimana saya dapat melihat menembus kebohongan uang fiat? Maka jawabannya adalah kamu harus berhenti mengukur nilai apapun dengan uang fiat. Karena uang fiat tidak dapat memberi tahu kamu apa nilai sejati dari sesuatu itu, karena uang fiat tidak dapat memberitahu kebenaran. Uang fiat adalah kebohongan yang mengelabui.
Pertanyaan berikutnya yang sering diajukan adalah: “Seberapa tinggi emas atau dinar akan naik?”, Tentu jawaban umum yang mereka harapkan datang dari saya adalah harga dalam uang fiat Rupiah atau Dolar. Muslim ataupun publik harus berhenti berpikir seperti itu! Bukan harga emas atau dinar yang penting, melainkan berapa banyak barang yang bisa dibeli atau ditukar dengannya. Ketika saya mengatakan, “Emas akan menjadi dua juta pergram atau dinar akan menjadi delapan juta perkeping”. Maka kebanyakan orang akan berkata, bagus sekali, dan mereka secepatnya akan membeli sebanyak mungkin emas atau dinar. Namun ketika saya mengatakan: “Secangkir kopi berharga satu juta”, maka mereka berkata,”Mari kita lihat, itu berarti harga secangkir kopi adalah satu gram emas, ini tidak bagus.” Berdasarkan kondisi itu orang-orang akan menjual semua emas atau dinar mereka mumpung masih bernilai dan tidak akan menunggu sampai harga emas atau dinar naik mencapai puluhan juta pergram atau perkeping, dan secara efektif tidak bernilai apa-apa.
Mengapa sejak mencetak dinar dan dirham, membahas hal ini, tentang nilai sesungguhnya? dan saya mengatakan nilai dan harga itu berbeda? Karena itu adalah satu-satunya cara untuk memberitahu apakah suatu aset atau komoditas (ayn) bernilai tinggi atau bernilai terlalu rendah, dan hal ini menjadi sangat penting dalam bermuamalah, karena ini semua berkaitan erat dengan ukuran dan timbangan yang adil.
Pertanyaan berikutnya adalah: “Bagaimana saya mengukur nilai sejati? Sebagaimana saya sudah sebutkan sebelumnya, langkah pertama adalah berhenti mengandalkan uang fiat apakah itu Dolar atau Rupiah, dan mulailah menggunakan barang-barang lain yang memiliki nilai inheren. Sebagai contoh, saya bertanya kepada kamu, berapa nilai rumah kamu? Mungkin kamu tahu harganya, tapi berapa nilainya?
Bagaimana cara untuk mencari tahu? Pada umumnya orang tahu berapa harga rumah-rumah di daerah mereka, jadi buat saja perkiraan harga untuk rumah kamu. Kemudian bagi harga rumah itu dengan harga emas pergram atau dinar perkeping, supaya kamu tahu berapa gram emas atau keping dinar harga rumah kamu. Kemudian bagi harga rumah kamu dengan harga satu barel minyak mentah dan kamu akan tahu berapa barel minyak harga rumah kamu.
Penjelasan ini mungkin akan berguna ketika kamu mulai menganalisa dalam kerangka historis, menggunakan sesuatu di luar uang fiat untuk mengukur nilai. Kamu akan melihat dan menemukan bahwa seiring waktu, hampir tidak ada yang naik, padahal harganya dalam angka uang fiat yang naik (daya belinya terus meorost), ini serius. Ketika diukur dalam uang fiat, nilai barang terlihat naik, padahal hanyak harganya yang naik. Ketika diukur dari segi nilai semua menjadi jalan bekelok sepanjang waktu.
Dengan membuat grafik, kamu akan mendapati bahwa hampir segala sesuatu dari segi nilai akan beranjak dari bernilai terlalu rendah kepada bernilai terlalu tinggi, kembali bernilai terlalu rendah dan begitu siklus seterusnya, ketika kamu megetahui pola-pola siklus nilai, maka hal ini menjadi sesuatu yang bernilai untuk jalan kembali menggunakan dinar dan dirham.
Dalam hati mungkin kamu bertanya, “Apa yang menyebabkan barang-barang beranjak dari bernilai terlalu rendah hingga bernilai terlalu tinggi?”. Nilai bergeser ketika publik berlomba mendapatkan satu kelompok aset kepada kelompok aset lain. Publik secara umum mengejar kelas aset mana yang paling ‘panas’, aset yang mungkin sedang digandrungi atau diperbincangkan luas di media, digadang-gadang oleh sekelompok ‘influencer’ atau iklan, sebagai cara terbaik untuk menjadi kaya dalam waktu singkat, dan memang kelompok aset itu tergolong yang diinginkan publik. Semua itu adalah kelompok aset yang menyedot modal langsung dari kelompok aset-aset lain. Dengan melakukan hal itu, aset yang ‘panas’ jadi terlalu mahal. Barang yang tidak ‘panas’ menjadi terlalu murah. Sesederhana itu.
Pada konteks awal abad ini aset ‘panas’ sekali lagi adalah emas, perak dan komoditas. Mereka yang benar-benar cerdas dan beriman, dari sudut pandangan keuangan mampu untuk mengenali siklus-siklus tersebut dan juga menggunakan informasi untuk memnafaatkan siklus-siklus tersebut menghadapi keruntuhan moneter riba. Dengan memahami nilai sejati dan sejarah dari bagaimana emas dan perak merevaluasi diri sepanjang abad, kita mulai kembali belajar dari awal untuk menggunakan uang sunnah.
Sebagai sebuah kasus yang ada di masyarakat saat ini adalah tentang perbedaan antara nilai (daya beli) dan harga jual (ongkos cetak), dapat di lihat dalam dinar dan dirham, karena di luar sana ada charlatan yang mengatakan harga 1 Dirham Rp 150.000 sebagai daya beli, itu adalah penyesatan publik, dengan apa yang sudah saya jelaskan di atas kita tahu itu adalah harga nominal uang fiat untuk mendapatkan (membeli) 1 koin perak dirham, sekali lagi itu bukan daya beli.
Semoga Allah memberikan kepahaman kepada kita semua untuk mengikuti kebenaran tidak hanya semata dengan logika tapi juga kemurniaan hati.

Leave a Reply
You must be logged in to post a comment.