Riba Adalah Perang Asimetris

Dalam menghadapi suatu perang panjang ataupun singkat diperlukan persiapan logistik dan keuangan. Bagaimana ketika keuangan dan logistik umat Islam dikuasai oleh mereka, berapa lama bisa bertahan? berapa banyak korban? dan berapa banyak dan luas kerusakan? Sementara itu politik dan pemerintahan hari ini adalah bagian dari desain moneter riba, terus jerumuskan bangsa ke dalam jerat hutang riba.

Selama logistik dan keuangan umat Islam terus menggunakan moneter riba dari mereka, artinya secara langsung dan tidak langsung umat Islam justru memperbesar perputaran riba dan semakin memperkuat keberadaan moneter riba dan bank dari oligarki bankir global serta kaki tangan mereka. Hal mendasar yang harus segera dilakukan oleh umat Islam adalah memotong urat nadi bankir rentenir, moneter riba dan uang kertas riba. Ini harus diputus, ditinggalkan dan diganti dengan moneter Islam.

Peradaban Islam tidak mungkin dibangun di atas kapitalisme atau moneter riba, karena riba dilarang keras dalam Islam, Allah dan rasul menyatakan perang atas riba. Dengan membiarkan moneter riba tersebut artinya umat Islam terus memberi makan naga, ditebas kepalanya muncul kepala lain dan semakin besar, dalam semua kedaan seluruh tenaga dan kerja umat Islam dihisap untuk menopang kehidupan dari oligarki moneter riba bankir global dan lokal, riba dan periba adalah benalu.

Moneter riba, jerat hutang riba adalah sebuah perang asimetris. Allah dan rasul menyatakan perang atas riba.

Perang asimetris merupakan metode peperangan secara non militer namun daya hancurnya tidak kalah bahkan dampaknya lebih dahsyat daripada perang militer. Ia memiliki medan atau lapangan tempur luas meliputi segala aspek kehidupan. Sasaran perang non militer tak hanya satu aspek tetapi juga beragam aspek, dapat dilakukan bersamaan, atau secara simultan dengan intensitas berbeda. Sasaran perang asimetris ini ada tiga:

(1) membelokkan sistem sebuah negara sesuai arah kepentingan pemilik fulus riba (2) melemahkan agama atau nilai kebenaran hakiki serta mengubah pola pikir rakyatnya, melalui berbagai media dan (3) menghancurkan kemandirian pangan (sumber dan ketahanan pangan) dan kemandirian energi (jaminan pasokan dan ketahanan energi) umat Islam atau sebuah bangsa, selanjutnya menciptakan ketergantungan bangsa atau negara target terhadap sekelompok orang rakus atau pemilik fulus riba, bankir rentenir global dan lokal.

Kami telah memberikan kepada kalian secarik kertas atau beberapa angka pada layar komputer yang kami istilahkan “uang”. Ia tidak di back up oleh apa pun dan tidak dibuktikan oleh apa pun, selain yang kami katakan dan hebatnya kalian mempercayai ‘uang’ itu. Kami tidak membuatnya dari apa pun, kami mencetak sesuka hati dan memonopolinya, kami ciptakan nilainya dari udara hampa, kami meminjamkannya dengan bunga berbunga dan kami mencuri nilainya yang terus merosot. Segala sesuatu yang berkaitan dengan ‘uang’ ini berada di tangan kami. Kami menginginkan kalian berada dalam sistem ini. Kami juga berikan kalian pemerintahan yang melestarikan dan melindungi kami, sehingga kami bisa melakukan kejahatan ini secara ‘legal’. Ketika kalian membeli sebuah rumah, mobil, motor, atau semua barang dan jasa, kami tidak hanya menerima penerimaan pajak untuk digunakan menurut tujuan kami, namun kami juga mendapatkan keuntungan dari bunga pinjaman tersebut. Kalian mungkin membayar dua atau tiga kali harga barang hanya dengan bunganya saja. Bunga riba tersebut juga dipajaki yang sekali lagi dialokasikan pada sektor sektor pengaruh yang kami pilih, rumah sakit, sekolah, sumber air, listrik dan sumber kekayaan alam. Kami bisa membeli apa saja dan siapa saja dengan ‘uang’ tersebut. Presiden dan pemerintahan boleh saja berganti, tapi kami tidak berganti, kami mengatur mereka. Kami tidak ingin kalian bebas dari riba dan itulah alasan mengapa kami melakukan seperti apa yang kami lakukan. Salam hangat, Bankir Rentenir Global dan Lokal. Selamat idul Fitri 1447H. (SA)

Comments

Leave a Reply